Menyapih (Asyraf) Dengan Cinta (dan Air Mata)

Sebelum saya berbagi cerita tentang bagaimana proses menyapih Asyraf saat usia 22 bulan, saya ingin terlebih dahulu menjelaskan terkait metode apa saja yang bisa digunakan saat kita ingin menyapih dengan cinta, atau yang lebih dikenal dengan Weaning With Love, dimana proses penyapihan dibagi menjadi dua metode, yaitu :
  1. Natural Weaning atau Baby Led Weaning atau penyapihan alami (tidak memaksa dan mengikuti tahapan perkembangan anak). 
  2. Mother Led Weaning (ibu yang menentukan kapan menyapih anaknya)
Dari kedua metode diatas, bisa dikatakan, saya termasuk yang menggunakan metode Mother Led Weaning meski memang metode yang paling dianjurkan adalah dengan cara penyapihan alami atau Natural Weaning. Hal ini dikarenakan  Natural Weaning dianggap sebagai metode yang memiliki dampak psikologis paling ringan, karena anak dengan sendirinya dianggap dengan pertambahannya usia akan menolak untuk menyusu pada ibunya, namun hal ini justru membutuhkan kesabaran lebih besar bagi sang ibu untuk mengikuti kemauan sang buah hati saat menyusu, meski seharusnya hal tersebut pun dibarengi dengan proses pemahaman antara ibu dan anak, agar tidak berkepanjangan melebihi batas usia menyusui yang sudah ditentukan, yaitu dua tahun.


"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya, selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan," (QS : Al-Baqarah : 233)"
Proses menyusui membutuhkan proses kedekatan antara ibu dengan bayinya, tidak hanya sebatas dekat secara fisik, namun juga dekat secara psikologis. Hingga akhirnya semua itu akan disudahi sesuai dengan batas usia yang sudah ditentukan, dimana semua ketergantungan yang sudah terjadi antara ibu dan bayi, dalam proses mengASIhi harus disudahi, dan masuk ditahapan selanjutnya. Agar proses menyusui yang telah berjalan selama dua tahun tersebut tidak berakhir dengan sebuah kekecewaan yang membekas didalam kehidupan sang buah hati, penting adanya, bahwa sesuatu yang sudah dimulai dengan baik juga harus diakhiri dengan cara yang baik-baik pula. Hal yang terpenting, yang harus diingat dalam proses menyusui dan menyapih ini, bukan hanya peran antara ibu dan anak, melainkan juga ada peran ayah yang jauh lebih besar untuk mendukung seluruh proses tersebut.
Dalam hal ini, saya dan Asyraf melakukan proses mengASIhi dengan metode Direct Brestfeeding, atau meyusu secara langsung tanpa media perantara, yang dengan cara di perah atau pumping, bagi ibu-ibu pejuang ASI perah, mungkin bisa juga berbagi bagaimana menjalani pengalaman dua tahunnya dalam berbagi cinta untuk sang buah hati. :)

Apa alasan Asyraf disapih sebelum genap berusia 24 bulan?

Hal ini mungkin banyak ditanyakan, mengapa tidak menunggu sampai Asyraf genap 24 bulan untuk disapih? Hal ini dikarenakan memang melihat beberapa kondisi dimana saya merasa Asyraf dan saya sudah siap untuk "berpisah". Saya merasa saat itu proses menyusui yang dilakukan oleh Asyraf tidak lagi dilakukan karena kebutuhan, melainkan hanya sebatas memenuhi hasrat ketergantungannya dengan saya, karena  memang saat seorang anak menyusu pada ibunya, itu adalah saat dimana ia mendampatkan ketenangan, serta kenyamanan yang mampu membuatnya betah berlama-lama saat sedang menyusu dan sulit dilepas. Itulah mengapa, saat seorang bayi yang sedang menyusu ketika tidur, ia akan terbangun kembali saat puting sang ibu dilepaskan, hal ini karena ia merasa bahwa kenyamanannya hilang, sehingga ia terbangun kembali.

Saat usia Asyraf memasuki usia 22 bulan, ada sebuah tanda-tanda dimana keinginannya untuk menyusu memang jauh lebih sering dari biasanya. Saat saya mulai memutuskan untuk sounding ke dirinya bahwa ia sudah besar, dan sebentar lagi ia tidak boleh lagi menyusu, justru malah membuatnya semakin berhasrat untuk lebih sering meminta nenen, namun dengan intensitas waktu yang hanya sebentar-sebentar, terkadang hanya dibuat mainan, tidak fokus, bahkan seringnya hanya digigit-gigit karena memang sedang dalam proses tumbuh gigi yang bertubi-tubi. Alasan selanjutnya juga dikarenakan melihat proses makan Asyraf yang sudah mulai baik, meski terkadang masih naik turun, namun sudah mulai teratur, adanya tambahan susu UHT (asyraf minum susu ultra mimi coklat), bahkan buah, baik dimakan langsung ataupun di jus.

Namun, dari semua alasan tersebut yang terpenting adalah keyakinan dan kesiapan dari semuanya, tidak hanya Ibu dan anak, melainkan juga ayah yang siap membantu dan mendampingi untuk setiap detil proses dan tahapan-tahapan dalam menyapih. Setiap ibu pasti memiliki alasan pertimbangan dan feeling nya masing-masing dalam proses penyapihan ini, sehingga tidak bisa disamaratakan. Semua alasan-alasan tersebut membuat saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan metode Mother Led Weaning, dimana saya sebagai seorang ibu yang menentukan kapan kesiapan waktu yang tepat menurut saya untuk menyapih Asyraf.

Bagaimana Proses Menyapih Asyraf?

Percayalah, tidak ada yang ideal dan berjalan sempurna sesuai teori yang ada, pada saat kita melakukan proses menyapih dengan cinta ini. Hal ini dikarenakan memang terlalu banyak hal yang tidak terduga dan mengejutkan pada kenyataannya apa-apa yang terjadi pada saat kita menerapkan proses Weaning With Love. Inilah kenapa, diawal saya menambahkan judul, dengan kata "air mata", karena memang pada prakteknya ada begitu banyak perasaan yang berkecamuk saat kita ingin menyapih anak kita, ada perasaan tidak yakin bahwa kita bisa melakukannya. Disinilah pentingnya berkomunikasi dengan pasangan. Kita juga perlu memberikan edukasi yang sama dengan pasangan, agar kita bisa bersama-sama menjalani segala kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Proses menyapih Asyraf, mungkin tidak berjalan semulus yang terlihat. Saya sudah mengatakan berkali-kali kepada Asyraf, bahkan sejak ia berusia 18 bulan, bahwa ia sudah besar, nanti saat usia dua tahun sudah tidak nenen lagi, begitu terus dan sering sekali diucapkan. Tapi, ternyata semakin sering saya ucapkan ke Asyraf, bukan semakin mudah saat menyapih, malah semakin membuat ia sering berontak, menangis, bahkan menyengaja untuk menyusu lebih lama dari biasanya, lebih lengket dengan saya dari sebelum-sebelumnya, hingga lebih cengeng dan sensitif dari biasanya. Hal ini ternyata berpengaruh kepada psikologis saya sebagai ibu, saya jadi ikut stress, sensitif dan mudah menangis. Membuat saya sering ragu dan hampir putus asa, apakah saya bisa melakukan proses menyapih dengan cara ini. Disinilah peran besar seorang suami dalam proses menyapih, menguatkan kembali mental dan rasa percaya diri seorang ibu, bahwa ia bisa dan mampu.

Pada saat menyapih, hal yang paling diperlukan adalah berbicara dari hati ke hati dengan serius atas rencana menyapih kita kepada suami, bersama-sama mengedukasi diri tentang ilmu dalam penyapihan, saling menguatkan dan mengingatkan. Lalu, mengkondisikan pikiran dan hati sang ibu agar tetap tenang dan tidak stress, karena ini akan sangat berpengaruh kepada anaknya, dan dia akan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya. Pernah saya melakukan kesalahan dalam proses menyapih ini, hanya dengan bermodalkan rasa lelah dan rasanya ingin segera menyapih Asyraf, karena iri melihat anak-anak seusianya yang lain sudah disapih, lalu saya nekad melakukannya, namun dengan cara yang terburu-buru. Saya menggunakan metode "penolakan/membiarkan" saat Asyraf meminta nenen, saya biarkandan tidak saya kasih bahkan sampai menangis kencang dan jejeritan. Hal ini seharusnya tidak boleh dilakukan karena justru mungkin akan semakin menimbulkan trauma yang lebih besar. Saya kembali diingatkan oleh pak suami,

"apa memang metode seperti ini baik? katanya menyapih dengan cinta, seharusnya kan bisa memberikan ketenangan satu sama lain, kok malah saling menyakiti. 

Rasanya menohok sekali, saat itu saya menangis sejadi-jadinya, dan kembali mengevaluasi dan menata ulang mental dan kesiapan saya untuk menyapih Asyraf. Dibantu oleh sang suami, akhirnya kami melakukan penyapihan dengan cara mengurangi intensitas waktu menyusu Asyraf. Kami mulai bekerjasama untuk berganti peran diwaktu-waktu Asyraf sering meminta untuk menyusu. Saat itu Asyraf pasti menyusu setiap menjelang tidur dan bangun tidur, baik siang ataupun malam. Kami mulai mengurangi intensitas saat Asyraf tidur malam, ayahnya yang biasanya pulang larut malam, karena sudah komitmen, saat itu mengesampingkan beberapa agenda dimalam hari. Asyraf sering tidur dengan ayah, nyanyi-nyanyi, baca dongeng, digendong-gendong dan lain sebagainya sampai Asyraf mengantuk. Meski memang tidak mudah, kita menjadi lebih lelah, karena memang asyraf tidurnya jadi lebih malam bahkan hingga larut, minta ditemani main, ngobrol, cerita, dan lain-lain. Menuju tidur, pasti minta digaruk-garuk terlebih dahulu diseluruh bagian tubuhnya, dan berpindah-pinda. Saat pagi, saya harus keluar kamar terlebih dahulu, sebelum Asyraf bangun dan melihat saya, Ia bangun dengan ayahnya, sehingga tidak melihat saya, dan tidak meminta nenen. Saat Asyraf bangun dengan ayahnya, ia pasti digendong, oleh ayahnya diajak bicara didepan kaca, semacam menghipnotis diri, begini kurang lebih kata-katanya...
"Haloo, nama saya Asyraful Anam Putra Prasetya, umur saya dua tahun, saya sudah gede, udah ndak nenen lagi.."
Proses ini berjalan hingga hampir saatu minggu, menjadi sebuah aktivitas yang akhirnya membentuk sebuah kebiasaan baru untuk Asyraf, namun kata-kata tersebut bak mantra magic yang ampuh untuk membuat Asyraf akhirnya mau untuk disapih secara perlahan-lahan. Proses menyapih itu memang sangat melelahkan, oleh karenanya kita harus menyediakan kesabaran yang sangat ekstra. Pernah diawal-awal menyapih, Asyraf tidak tidur siang, dia main seharian, saya sempat lelah dan kualahan, tapi harus tetap kuat dan sabar menemaninya bermain demi menjaga mood baiknya. Tidur siangnya jadi sangat berantakan, bahkan jadi tidur sore setelah mandi, mendekati maghrib baru bangun, dan malamnya tidur larut. Begitu terus berlangsung sampai satu minggu, sampai akhirnya semua bisa dikomunikasikan dengan baik.

Asyraf sudah mulai mengurangi intensitasnya dalam meminta nenen, ia mulai terbiasa untuk tidak tidur dan bangun dengan menyusu. Saat itu minuman pengganti yang diminta saat proses penyapihan adalah jus buah, karena Asyraf sampai saat ini memang sangat menyukai berbagai jenis buah-buahan, pernah tengah malam saat terbangun ia minta dibuatkan jus, seringnya saat baru bangun tidur ia juga minta dibuatkan jus, karena pada saat itu memang belum terbiasa dengan susu peralihan yaitu susu UHT. Beberapa kali juga pernah coba beli susu formula dengan beberapa rasa dan merk, juga tidak pernah mau diminum dan dihabiskan. Namun, akhirnya ia mulai menyukai susu UHT, Ultra Mimi itu dengan pilihan rasa coklat dari pada yang plain atau vanilla.

Begitulah sedikit sharing saya dalam perjalanan menyapih Asyraf yang sungguh menguji kemampuan dan kesabaran diri dalam mengolah emosi saya sebagai seorang ibu. Setiap ibu pasti memiliki perjalanan kehidupannya masing-masing dalam mendampingi sang buah hati. Tidak ada yang pernah salah dalam setiap pilihan keputusan-keputusan seorang ibu/ayah untuk anaknya, selama ia mau belajar dan memperbaiki diri. Saya yakin tidak akan ada orangtua yang ingin mencelakakan anaknya, dengan mengambil keputusan yang buruk untuk mereka. Jika memang masih ada hal yang kurang tepat saat kita mengambil keputusan, jadikan itu pembelajaran, bukan penyesalan. Percayalah, setiap ibu dan ayah itu adalah SUPER HERO di mata anak-anak kita, karena mereka melihat dengan kepolosan dan rasa cinta untuk orang yang selalu ada mendampingi mereka dari terbangun dari tidur, hingga kembali terlelap dalam tidurnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REBORN..

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!

ANDINI (episode 1)