CANDU



Suatu hari, ada seseorang yang bertanya pada ku.

"Mba, kenapa ya, banyak diluar sana orang-orang itu tahu, dan pasti mereka itu tidak mungkin tidak tahu di era informasi yang sangat terbuka ini, tentang pacaran itu tidak baik, pacaran itu dosa, dan lain sebagainya, tapi seolah mereka menutup diri, tidak mau tahu, bahkan pura-pura tidak tahu, kenapa ya mba?"

Padahal, yang bertanya pun sejatinya adalah seseorang yang dulunya pernah berada di posisi demikian. Lantas atas izin Allah, dan keinginannya yang besar dari dalam diri untuk terus belajar dan berubah, hingga akhirnya, ia pun hijrah.

Lantas, apa jawaban ku?

Aku selalu mencoba untuk mengenali lawan bicara ku, ketika ingin menyampaikan sesuatu. Bisa jadi, ketika aku ditanya dengan pertanyaan yang sama oleh orang yang lain, dengan berbeda pola pikir dan latar belakang, aku pun akan menjawab dengan cara yang lebih berbeda, meski dengan tujuan yang sama.

Lalu aku pun menjawab, 

Pacaran itu seperti orang yang merokok, kataku. Kamu pernah tau bagaimana seseorang yang sudah candu dengan rokok nya? Yang lebih memilih untuk mengawali hari dengan sebatang rokok dan secangkir kopi, dibanding dengan sepiring nasi ataupun sepotong roti? Ia tak seperti orang kebanyakan, yang lapar, dan pusing bukan kepalang apabila belum ada makanan yang masuk ke lambung, hingga membuatnya kliyengan tak mampu menyelesaikan pekerjaan.

Tidak! Mereka akan lebih pusing tidak karuan, kehilangan fokus dan ketenangan, jika belum memasukan nikotin dan tar kedalam tubuh mereka, yang katanya menenangkan dan mampu membuat mereka kecanduan.

Lantas, apa hubungannya pacaran dengan orang yang merokok?

Hubungannya adalah, para perokok itu tidak mungkin tidak tau bahaya dari setiap hisapan rokok yang mereka masukkan kedalam tubuh mereka, lha wong pada saat mereka membeli rokok saja, dibungkusnya sudah dituliskan tentang resiko-resiko yang akan didapatkan apabila mereka merokok, bahkan saat ini bungkus rokok juga sudah dilengkapi gambar mengerikan yang tertera dibungkusnya. Lantas, apakah mereka menghiraukan? Tentu tidak, betapa banyak pun larangan yang terpampang, dan kata-kata yang diucapkan untuk membuatnya jauh dan terlepas dari jeratan rokok, tak akan membuatnya terlepas dengan mudahnya dari rokok tersebut.  Kenapa? Karena ada candu disana, karena ada ketergantungan yang melenakan disana, karena tanpanya, hidupmu seakan sakau dibuatnya.

Begitulah, dengan orang yang berpacaran, mereka saling candu dan ketergantungan satu sama lain, ada ketenangan dan kenyamanan yang disemai oleh setan, yang tumbuh subur tak berguguran. Kesendirian adalah keburukan, seakan kau tak laku ditawar oleh zaman, maka saat kau belum mampu menikah, berpacaran adalah jalan keluar. Meski mungkin mereka terkadang sudah lebih paham bahaya dan laranhan-larangannya dari pada kita. Begitu mungkin kira-kira.

Lantas kita harus apa? Haruskah membiarkan saja?

Tidak, begitu saja. Percayalah, mereka yang berpacaran tidak akan pernah suka diceramahi dengan dalil-dalil apapun, mereka tak suka disalahkan ataupun diberikan larangan-larangan. Namun, mereka masih bisa diajak untuk belajar. Belajar bukan hanya tentang memahami teori, namun belajar tentang bagaimana memahami arti, bagaimana menyelami rasa yang belum pantas dimiliki, karena ada Sang Pemilik Hati yang Maha Pecemburu. Ada seseorang diujung waktu yang sedang menunggu, yang lebih pantas memilikimu dengan permintaan yang baik kepada kedua orangtua mu kelak. Kasihan kelak, jika saat kau berpacaran, ternyata ia bukanlah jodoh mu yang tepat, yang kelak tak mampu menjadi penanggung jawabmu di akhirat.

Jadi, segera sudahi saja candu mu, segera rehabilitasi hatimu. Karena terkadang kebaikan memang harus dipaksakan, tidak ada cara lain selain melepaskan, mengikhlaskan, dan tak membiarkan candu mu semakin menggebu. Percayalah, cinta itu candu, jangan lepas ia jika ia sudah benar-benar halal menjadi milikmu, namun segera lepaskan ia jika cintamu masih abu-abu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REBORN..

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!

ANDINI (episode 1)