ANDINI (episode 2)



"Assalamualaykum..."

"Wa'alaykumussalam..." Jawabku sambil setengah berlari dari dapur menuju depan pintu rumah kontrakan yang tidak begitu besar, bersegera membukakan pintu rumah untuk seseorang yang sudah sedari tadi ku tunggu kehadirannya.

"Tumben baru pulang mas?" tanya ku, sambil melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 21.00, lalu mencium punggung tangannya.

"Iya, maaf ya gak ngabarin, tadi dijalan macet banget gak bisa pegang hp, ternyata ada truk terguling ditengah jalan, jadi macet berkepanjangan."

"Astaghfirullah, tapi kamu gak apa-apa kan?" tanyaku cemas.

"Gak alhamdulillah.." 

"Alhamdulillah, yasudah, ini diminum dulu tehnya, terus kamu mandi, sudah aku siapkan air panas, setelah itu kita makan ya.." lanjutku.

"Oke, terimakasih ya Andiniku..." Jawabnya sambil mengecup kening dan mengusap-usap kepalaku seperti biasanya.

Kami tinggal berdua saja disebuah rumah kontrakan berpetak yang memang tidak terlalu besar, namun cukup untuk kami yang belum dikaruniai seorang anak. Kami menikah sudah hampir tiga tahun, namun mungkin Allah masih menginginkan kami mengenal lebih dekat, dan saling memahami satu sama lain, sebelum nantinya kehadiran sang buah hati yang kelak katanya akan lebih mendominasi cinta dan perhatian dari kami berdua, dijalani saja, dinikmati saja, begitu katanya, untuk menguatkan ku disaat diri mulai putus asa.

"Sini mas, aku sudah masak makanan kesukaan kamu, sayur asem, lengkap sama sambel dan ayam gorengnya. Yuk, makan mumpung masih hangat."

"Masyaallah, aku tuh ya sepanjang perjalanan pulang tadi kepikiran, kepingin sekali makan sayur asem sama ayam goreng, lha kok nyambung ternyata ke kamu ngebatinnya." jawabnya

"Oh yaa? Alhamdulillah kalau begitu, mungkin memang itu yang dinamakan jodoh, saling terhubung hati nya, jadi kadang tanpa harus diungkapkan semua bisa saling memahami satu sama lain. Hehe.."

"Oh iya dek, hari minggu besok, kamu ada rencana pergi kemana gitu gak?

"Minggu? Hemm.. kayaknya gak deh, kenapa mas?"

"Hemm.. Kita kerumah orangtua kamu yuk.." Tanyanya dengan nada yang sedikit berhati-hati.

"Hah? Kerumah orangtua ku? kerumah mama papa maksud kamu?" 

Ia menjawab dengan anggukan, untuk kembali meyakinkan.

Namun, sejenak hening beberapa saat...

"Kamu yakin?" Tanyaku kembali untuk meyakinkan kembali ajakannya.

"Iyaaa Andiniku, aku yakin.." jawabnya tegas, dengan senyuman khas yang mengembang dari kedua bibirnya.

***

Terakhir kali kami datang kerumah orangtua ku adalah saat ada acara ulangtahun keponakan ku, anak dari kakak ku yang pertama, itu pun karena kakak perempuan ku yang pertama yang menghubungi ku langsung. Biasanya hanya saat lebaran, dimana semua kakak-kakak ku berkumpul dirumah lengkap dengan suami dan anak-anak mereka. Biasanya aku hanya menginap semalam, sehari sebelum hari raya, keesokannya setelah sholat Ied dan dilanjutkan dengan sungkeman dan makan bersama, biasanya aku dan mas Sukma langsung bergegas untuk pamit karena harus lanjut berkunjung ke rumah bapak dan ibu mertua ku yang berada diluar kota.

Kami memang termasuk yang jarang berkunjung kerumah orangtua ku, hal itu dikarenakan papa ku yang tidak terlalu menyukai suami ku, mas Sukma, begitu juga mama, namun belakangan ini mama sudah mulai bisa menerima mas Sukma, karena melihat kesholihannya dan juga sikapnya yang sangat baik dan bertanggungjawab sebagai seorang suami. 

Hal ini dikarenakan sebelum kami menikah dulu, kedua orangtua ku telah menjodohkan ku untuk menikah dengan anak dari temannya yang saat itu sedang kuliah di Surabaya, aku dimintanya untuk sabar dan menunggunya tiga tahun lagi, karena ia sedang menyelesaikan tugas akhir kuliahnya dan setelah itu bekerja. Aku tidak menyetujuinya, karena aku memang bukan tipe seseorang yang mau menunggu lama seperti itu, serasa tidak memiliki kepastian, meski saat itu aku pun baru saja lulus kuliah, dan belum bekerja, aku berprinsip, jika memang ada laki-laki yang serius dan ingin menikah denganku, lebih baik disegerakan saja dan jangan terlalu lama menunda-nunda. 

Akhirnya, penolakanku berujung pada pemberontakan. Sebulan setelah kehadiran laki-laki yang akan dijodohkan ku dengan keluarganya kerumah untuk melamarku, membuatku semakin yakin untuk menolak laki-laki tersebut setelah melihatnya langsung, karena melihat sikapnya yang menurutku tidak sopan. Keesokannya aku memberanikan diri untuk meminta izin untuk menikah dengan laki-laki pilihanku sendiri. Aku mengatakan kepada papa dan mama, bahwa akan ada laki-laki yang datang minggu depan untuk berkenalan dengan mereka, sekaligus melamarku. Meski pada kenyataannya, aku belum memiliki calon siapapun yang bisa aku minta untuk datang, bahkan melamarku saat itu. Rasanya seperti disambar petir, papa marah besar, dan aku pun kebingungan harus mendatangkan siapa laki-laki yang mau melamar ku dalam waktu satu minggu. Sungguh, ide yang benar-benar konyol dan tidak masuk akal manusia!

Namun, ternyata memang banyak hal yang terkadang tidak masuk akal pikiran manusia, ternyata hal itu masuk dalam akal ketentuan yang mungkin saja terjadi bagi Allah jika Ia berkehendak. Setelah mama dan papa marah besar mendengar pernyataan konyol ku itu, aku langsung meninggalkan rumah untuk beberapa hari. Hingga kakak-kakak ku menelpon dan mencari ku kerumah teman-teman dekatku, namun tidak juga ketemu. 

Aku pergi kerumah seseorang yang sudah aku anggap melebihi kakakku sendiri, dia adalah seseorang yang senantiasa menjadi tempat keluh kesahku selama ini. Namanya Kak Tina, dulu dia adalah kakak tingkatku dikampus, dan setelah lulus dan menikah ia menjadi seorang guru disebuah sekolah Islam dekat rumahnya. Aku pun menceritakan semua hal yang terjadi padaku, tentang perjodohan itu, hingga pernyataan konyol ku tentang laki-laki yang akan datang kerumah minggu depan. Namun, begitulah pembawaannya yang tenang dan sangat menyejukkan nasihat-nasihatnya. Ia mengizinkan ku untuk tinggal dirumahnya, namun hanya satu malam, setelah nya aku harus kembali kerumah dan bicara baik-baik kepada kedua orangtua ku sekaligus meminta maaf kepada mereka. Ia pun berjanji akan membantuku untuk mencarikan seseorang yang baik dan sholih untuk ku, karena katanya niatan ku baik, jadi ia pun mau membantuku meski menurutnya cara ku kurang tepat. 

Waktu terus berjalan, dan waktu ku tinggal empat hari lagi, Kak Tina belum juga mengabarkan terkait laki-laki baik tersebut. Aku hanya bisa berdoa dan meminta pada Allah, rasa-rasanya ingin menyerah saja dan menerima lamaran laki-laki pilihan orangtua ku, namun aku juga tidak ingin mempertaruhkan masa depan ku dengan orang yang menurutku sudah tidak meyakinkan bahkan sejak pandangan pertama. 

Keesokan harinya, ada pesan masuk di handphone ku bertuliskan nama pengirimnya Kak Tina. Seketika saja aku bangun dan terloncat dari tempat tidurku. Segera aku membuka pesan tersebut.

Dek, pagi ini bisa kerumah?

Begitu isi pesan singkatnya, dan langsung ku balas dengan kalimat penyanggupan dengan penuh keyakinan, dan seperti kembali ada sedikit cahaya yang membuatku semakin yakin, setelah sebelumnya saat tidur aku bermimpi, bertemu dengan seorang laki-laki yang tidak begitu jelas rupanya, yang ku ingat hanya ia berbadan tenggap dan lebih tinggi dari ku, dan ia pun tersenyum, namun aku hanya diam saja menatapnya. Mungkinkah ini jawaban dari sholat-sholat istikhoroh ku sebelumnya ya Allah.

"Dek Andini, sebelumnya Kakak mau tanya sama kamu, apakah kamu yakin dengan keputusan kamu untuk menikah dengan cara seperti ini? Kita tidak pernah tahu siapa seseorang yang memang benar-benar baik untuk mendampingi kita menjalani kehidupan ini, tapi percayalah, kehidupan pernikahan itu bukan hanya untuk sebentar, melainkan selamanya, bahkan hingga ke surga, insyaallah. Dan sesuatu yang tergesa-gesa itu tidak selalu baik." Ucapnya dengan tegas namun tetap menyejukkan.

"Hemm, aku juga sebenarnya tidak begitu yakin kak, aku juga sebenarnya tidak ingin berada pada situasi seperti ini, tapi semua sudah terjadi, dan aku memasrahkan semua nya sama Allah kak, dan aku yakin Allah kasih jalan terbaik untuk ku, pun kalau memang aku harus menikah dengan laki-laki pilihan orangtua ku, aku ikhlas kak, mungkin itu yang terbaik. Tapi, sebelum waktu ku habis, aku masih ingin terus mengusahakan untuk mencari yang terbaik." Jelas ku dengan suara sedikit bergetar.

"Hemm, baik. Bismillah yaa, kemarin kamu yang mengatakan dan meminta tolong untuk dicarikan laki-laki sholih yang baik akhlaknya dan juga pergaulannya. Qodarullah, setelah kakak menceritakan permasalahan kamu sama suami kakak, ternyata beliau juga baru saja dimintai tolong temannya yang juga ingin segera menikah. Tapi, sebelumnya kami juga meminta sama Allah untuk ditunjukkan apakah ini yang terbaik atau tidak, karena kami yakin bliau laki-laki yang sholih dan baik insyaallah, karena kami sudah kenal baik dengannya dan juga keluarganya, insyaallah siang ini bliau akan main kerumah kami, jika kamu berkenan, kamu boleh menunggu disini sampai nanti siang, tapi jika tidak, kamu boleh pulang sekarang."

Rasanya hatiku berdesir dan bingung tidak karuan, telapak tangan ku berkeringat dan dingin. Rasanya benar-benar seperti diluar dugaan, Allah begitu baik memberiku pertolongan sebegitu cepat, sedangkan dosa ku masih begitu banyak. Memang tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.

"Kak, aku minta izin sejenak untuk sholat Dhuha yaa, boleh?" Pintaku, sejenak meminta waktu untuk menenangkan hati dan pikiran, aku butuh sejenak menunduk dan bersujud untuk meyakinkan semua ini, meminta kepada Sang Pemilik Hati.

Setelah sholat Dhuha beberapa rakaat aku berdoa dalam-dalam, hingga tak terasa air mata ini pun mengalir deras, aku meminta agar ditunjukkan jalan terbaik, terbaik tidak hanya untukku saja, melainkan juga untuk keluargaku, khususnya papa dan mama ku. Aku sudah tidak lagi berpikir setampan apa ia, bagaimana pekerjaannya, apa latar belakangnya, yang kuinginkan hanya kelak ia bisa jadi imam keluarga yang baik, sholih, dan bertanggungjawab untuk ku dan anak-anak kelak, karena aku yakin Kak Tina dan suaminya pasti tidak akan memperkenalkan seseorang yang sembarangan untuk ku, ia pasti akan memilihkan yang terbaik untuk ku. Bismillah ya Allah, hanya kepada Mu aku meminta, dan hanya kepada Mu aku berserah.

***

Pagi itu cuaca tampak begitu cerah, rasanya semesta begitu mendukung niat baik mas Sukma untuk bersilaturahim kerumah orangtua ku yang masih satu kota dengan kami. Sedangkan aku, rasanya tidak begitu bersemangat, karena aku sudah tau bagaimana reaksi penyambutan mereka jika kami datang.

"Yuk, sudah siap?"

"Iya sudah..." jawabku dengan nada yang tampak tak bersemangat.

"Andiniku sayang, kamu harus seneng dong, kita kan mau kerumah orangtua kamu, kerumah kamu dibesarkan dulu. Nanti diperjalanan kita mampir dulu yaa, beli buah segar untuk oleh-oleh." 

Aku hanya mengangguk, dan bersegera mengunci pintu, lalu memakai helm dan jaket, dan bersegera naik ke atas motor, agar kami tidak terlalu siang sampai disana.

Tokk.. Tokk.. Tokk...

"Assalamualaikum..."

Tokk.. Tookk.. Tokkk... "Assalamualaykum..."

"Husss, udah udah, jangan diketok-ketok terus, nanti kalau sudah sampai tiga kali dan belum ada jawabannya, kita sudah tidak boleh mengetuk lagi lho, inget gak haditsnya? Sudah sabar, nanti juga dibukakan pintunya.." Kata Mas Sukma yang melihatku mengetuk-ngetuk pintu berkali-kali tidak sabar.

" Iyaaa... iyaaa, maaf.." 

"Walaykumsalaaaam..." terdengar jawaban salam dari suara yang bagi ku sudah tidak asing lagi.

"Andini, Sukmaa, Masyaallaaaahh, tumben kalian kesini, kakak kangeeenn, ayooo masuk, masukk..."

Maaaa, Paaaa, ada Andinii nih sama suaminyaaa.

"Kak, Dela, aku juga kangeeen." jawab ku sambil berpelukan erat dengannya

Kak Dela adalah kakak ku nomor tiga yang tinggal bersama kedua orangtuaku dirumah, dan aku anak keempat, anak paling kecil, dan kedua kakakku lainnya, tinggal berjauhan diluar kota karena mengikuti suaminya. Iya, kami adalah empat perempuan bersaudara.

"Kalian duduk dulu ya, aku panggil mama sama papa, sama achan dulu, tapi mas Gusti lagi gak dirumah, mendadak ada kerjaan jadi tadi pagi harus ngantor. Hayoo duduk.."

Seketika semuanya sudah berkumpul diruang tamu, termasuk Achan, keponakan ku yang kini berusia dua tahun. 

"Ma, Pa, gimana kabarnya? sehatkan?" tanya mas Sukma untuk mengawali pembicaraan kami.

"Sehat alhamdulillah." jawab mama, karena memang papa tampak tidak berminat untuk sekedar menjawab pertanyaan basa-basi seperti itu.

"Ngapain kalian kesini?" Tanya papa, seperti biasa dengan nada ketusnya.

"Kami kesini ingin silaturahim pah, mah, rasa-rasanya tidak pantas seorang anak dan orangtua jika hanya bertemu satu tahun sekali dan tidak saling bertanya kabar, padahal kita masih tinggal dikota yang sama." Sambung mas Sukma, dan aku pun hanya duduk tertunduk diam tanpa kata.

"Iyaaa bener itu Sukma, sering-seringlah main kesini, Achan juga kangen lho sama kalian, dia juga seneng kalo ada tante dan om nya suka main kesini jadi punya teman main, ya kan Achan?" jawab kak Dela yang mencoba mencairkan suasana agar obrolan menjadi lebih santai.

"Hemm, tapi selain itu, ada maksud lain saya dan Andini datang kemari pah, mah. Ada sebuah permintaan yang ingin saya ajukan kepada papa dan mama."

Hah? seketika aku mengarahkan pandanganku ke mas Sukma, mata ku terbelalak dan tak mengerti maksud dari arah pembicaraannya. Apa maksudnya mengatakan demikian? sebelumnya ia tidak pernah berbicara apa-apa kepada ku, permintaan seperti apa yang dia maksud, yang akan dikatakan kepada mama dan papa. 

"Apa?" tanya papa ketus

Sambil menggenggam tangan ku, mas Sukma melanjutkan pembicaraannya.

"Saya sebagai menantu papa dan mama, sekaligus suami Andini, tidak ingin menjadikan Andini anak yang durhaka, meski seorang anak perempuan ketika sudah menikah, sudah bukan lagi tanggungjawab orangtuanya, tapi bukan berarti harus terputus tali silaturrahimnya. Saya menikahi Andini, bukan untuk memisahkan Andini dengan orangtuanya yaitu mama dan papa. Saya tau papa dan mama memang belum memberikan restu seutuhnya untuk kami berdua, karena mungkin masih ada rasa sakit hati papa kepada kami, tapi saya mohon, beri kami kesempatan untuk kami membuktikan, bahwa kami bisa bertanggungjawab dengan keputusan kami, dan saya bisa membahagiakan Andini, didunia dan akhirat, insyaallah."

"Usia pernikahan kami sudah hampir tiga tahun, dan selama itu juga saya merasa ada hal yang kurang dalam perjalanan rumah tangga kami. Saya merasa harus segera memberanikan diri untuk menyudahi semua ini, agar kami bisa kembali menjalani hubungan rumahtangga ini dengan ridho seutuhnya dari mama dan papa. Jika diperkenankan, untuk memperbaiki hubungan antara Saya, Andini, Mama, dan Papa, kami mohon izin untuk diberi kesempatan untuk lebih mengenal satu sama lain, dengan cara agar kami diperbolehkan tinggal disini beberapa bulan saja bersama mama, papa, kak Dela, Mas Gusti, dan juga Achan. Bagaimana?"

Bak, disambar petir, aku terkejut dengan permintaan aneh dan konyol itu menurut ku, dan aku rasa tidak hanya aku yang terkejut, melainkan semua orang yang mendengarnya, terkhusus papa. Semua hening, tak ada jawaban apa-apa dari siapapun, rasa-rasanya mas Sukma terlalu berani dengan permintaannya yang sangat mengejutkan dan tidak masuk akal itu.







Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

REBORN..

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!

TLATAR, WISATA AIR TERSEMBUNYI BOYOLALI