ANDINI (episode 1)


"Mas, kamu tau gak, diluar sana lagi banyak banget lho yang membicarakan tentang bagaimana idealnya menjadi seorang istri atau suami, bagaimana idealnya menjadi seorang ibu, bagaimana ideal bersikap terhadap pasangan, dan masiihh banyak lagi. Kira-kira kalau ternyata aku ga seideal itu gimana mas?" Tanya ku membuka pembicaraan saat meneduh disebuah warung kecil saat hujan deras ketika kami sedang perjalanan pulang.

"Hemm.. ya gak apa-apa, lha emang kenapa?" jawabnya singkat.

"Yaaa, ga apa-apa sih cuma tanya aja." Jawabku sambil memasang muka setengah kesal, karena ternyata pertanyaan panjang ku hanya terselesaikan dengan jawaban, "ya gak apa-apa."

"Hemm, dek, coba deh lihat mereka yang ada dibawah kolong jembatan yang sedang berteduh itu, banyak ya? kasian."

"Hemm... iya." jawabku singkat, semakin kesal karena pertanyaannya terdengar seolah mengalihkan pembicaraan dengan hal yang menurut ku tidak penting.

"Terus itu, kenapa ya banyak pengendara motor yang mereka masih nekat motoran padahal hujan deras kaya gini, apa gak takut bahaya yaa, kenapa mereka gak menepi dan berteduh dulu minum-minum teh sejenak kaya kita gini?"

"Gak tau, gak peduli, biarin aja itu kan urusan mereka! Kenapa sih emangnya? kok kamu malah ngurusin mereka?!" jawab ku kesal.

"Nah, sama kalau gitu sama seperti yang kamu pikirkan. Jadi kalau menurut aku, idealnya seseorang yang berteduh itu lebih baik berhenti ditempat yang aman, bisa menepi di warung contohnya, seperti kita gini, atau bisa berhenti di pertokoan atau dimanapun lah tempat yang penting aman. Dan itu, mereka yang mengendarai motor saat hujan, itu juga sama, gak ideal kan, harus nya mereka berhenti dulu, karena bisa berbahaya. Tapi, mereka tetap melakukan itu bisa jadi karena memiliki alasan tersendiri yang menurut mereka baik. Gak apa-apa kehujanan, basah, yang penting bisa cepat sampai rumah, cepat istirahat bisa ketemu sama keluarga. Nah, gak apa-apa kan?"

"Hah? iya gak apa-apa" jawabku sambil setengah bingung menangkap maksud dari penjelasan panjangnya."

"Jadi, sayaang, gak apa-apa, orang mau bicara soal ke-idealitasan dalam hidup menurut versi mereka masing-masing, gak apa-apa. Yang apa-apa itu, saat hidup kita justru malah jadi semakin tidak ideal, karena adanya ke-idealitasan yang dibuat menurut versi manusia, bukan versi dari Allah. Sampai sini paham?"

"Hah? enggak..." jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala, dengan sedikit kebingungan dengan jawaban panjang yang benar-benar diluar dugaan."

"Andiniku. Aku, gak pernah mempermasalahkan seideal apa kamu atau kita sudah saling bersikap dalam menjalani kehidupan ini satu sama lain, hal yang terpenting adalah kita bisa senantiasa melakukan sesuatu yang memang kita mampu untuk melakukan, tanpa harus memaksakan bisa seperti orang lain, memaksakan supaya tampak sempurna dimata orang lain, tapi kita lupa untuk bersikap ideal dimata Allah. Ideal untuk memperbaiki setiap niatan atas setiap apa-apa yang kita lakukan, ideal untuk selalu memperbaiki diri dari setiap kesalahan yang dilakukan, dan juga ideal untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan." ucapnya sambil meneguk secangkir teh hangat yang tadi dipesannya.

"Aku takut, kalau aku menuntut kamu untuk bersikap ideal seperti yang tadi sudah kamu katakan, aku takut kamu malah jadi tidak ideal, karena harus bersikap seperti orang lain, yang padahal bisa jadi, ada beberapa kriteria keidealitasan itu malah jadi gak ideal kalo diterapkan dikeluarga kita. Jadi, yang terpenting adalah dalam sebuah hubungan pernikahan, kita bisa saling terbuka dalam hal komunikasi, bahkan dalam hal sekecil apapun. Itu sudah cukup untuk kita saling mengidealkan diri. Oke? sudah yaa, hujan mulai reda, kita lanjutkan perjalanan pulang yuk, supaya bisa segera sampai rumah dan istirahat." Lanjutnya, mengakhiri pembicaraan.

"Ohh, iya sebentar aku habiskan minuman ku dulu."

Sepanjang perjalanan pulang, aku memeluk pinggangnya erat-erat, terasa ada kehangatan yang menyelimuti hati, bahkan disaat angin jalanan yang menerpa begitu kencang, dan dingin terasa menusuk kulit hingga ke tulang, karena udara malam yang semakin dingin setelah turun hujan. Aku, terkadang memang tidak pernah mampu menebak bagaimana caranya menjawab dari setiap pertanyaanku yang seringnya kekanak-kanakan, dan dia selalu sabar menjawabnya dengan cara yang mendewasakan. Ah, rasanya aku yang beruntung memiliki suami sepertimu, Mas Sukma, mungkin memang benar adanya, jika jodoh itu dipertemukan bukan dengan kriteria yang sudah saling sempurna, melainkan untuk saling menyempurnakan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

REBORN..

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!

TLATAR, WISATA AIR TERSEMBUNYI BOYOLALI