Cerita di Hari Ketiga Puasa

Selamat hari ketiga Ramadhan...

Meski rasanya sudah begitu lama meninggalkan blog ini, memang sudah seharusnya ada kata maaf yg terucapkan, meski hanya sebatas bertatap layar. :)

Di bulan Ramadhan 1436 kali ini, yang juga bertepatan di bulan Juni 2015 ini, jelas ada banyak banyak banyaakk perbedaan. Ramadhan-ramadhan sebelumnya, masih berstatus anak sekolah perantauan dikota orang yang selalu mengatakan rindu ingin pulang, mau puasa pertama bareng keluarga. Begitu katanya, dulu. Dan itu berlangsung selama lima kali Ramadhan, di perantauan, bersama keluarga kecil dikosan, saling mengingatkan bangun sahur, dan berbuka puasa. Kami saling melengkapi, karena kesamaan nasib sebagai anak perantauan, jadi dengan otomatis kami mengambil peran sendiri-sendiri untuk melengkapi dan menjadi obat penawar bagi suasana keluarga itu sendiri. (Huff... akhirnyaaa titik jugaaa, lanjuuutt.. ✌✌)

Kini, suasana berubah menjadi apa yang dulu duluuu sering dirindukan. Alhamdulillah usai juga tunaikan kewajiban belajar di akhir tahun 2014 lalu, dan kini sudah kembali menetap dirumah, dan Alhamdulillah atas kebaikan Allah yang luaarr biasaaa baiikk, kini aku juga sudah memiliki amanah pekerjaan di sebuah lembaga zakat, hanya berjarak dua minggu setelah menetap di Jakarta. Bukan waktu yg lama jd pengangguran, Alhamdulillah.. Alhamdulillaaahh....

Bergabung bersama warga Jakarta lainnya, menjadi pekerja yg setiap pagi berangkat, tapi Alhamdulillah tidak perlu berangkat abis subuh, cukup seperti berangkatnya anak sekolah, pukul tujuh, dan pulang juga pukul tujuh, dan ini versi malam. Hehe... Menjadi pelanggan setia moda angkutan Transjakarta koridor 8, rute Harmoni - Lebak Bulus. 😁😁

Ada banyak hikmah yang didapat sebagai pekerja di saat Ramadhan, yg kebetulan pekerjaan saya berbeda dengan yg lainnya, yang bisa pulang lebih awal saat puasa. Setiap hari harus berpacu dengan waktu, selama masih bisa pulang jam 5 teng Go!! Yaaa haruss segera pulang, meski mungkin tetap tidak akan bisa buka puasa bareng keluarga di rumah, dengan menu yg pasti lebih terjamin enak dan banyak, hehe, tapi bersyukur tetap bisa buka bersama penumpang Transjakarta dengan menu seadanya (biasanya sih cuma air putih aja, udah). Hehehe...

Cukup.. cukup.. cerita sabtu pagi yang sendu mengharu biru di ramadhan ke tiga ini, mohon maaf sekali lagi, jika tidak ada hikmah yang bisa dipetik dari tulisan ini, terimakasih karena sudah bersedia capek-capek buat baca. Hehe..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REBORN..

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!

ANDINI (episode 1)