Dua Puluh Empat adalah Angka yang Tak Lagi Muda(h)

Dua puluh empat tahun, sebuah bilangan yang tak lagi kecil untuk masa usia manusia. Ada yang berbeda di pertambahan usia ku kali ini. Tak terbayang semeriah dan (ingin) membuatnya meriah, layaknya tahun-tahun sebelumnya. Entah mengapa, tepat di tanggal dua puluh tujuh Juni, beberapa hari lalu, aku hanya terhenyak sepanjang waktu. Meski seperti setiap tahunnya, ada banyak ucapan doa terlantun baik melalui lisan maupun tulisan untukku, aku hanya menganggap itu sebagai rasa syukur yang kuamini dari orang-orang sekitar ku, yang hingga kini Allah masih beri aku kesehatan, kebahagiaan, dan begitu banyak kenikmatan yang tak pernah mampu aku menghitungnya, dan semoga aku tidak termasuk sebagai hamba yang lalai untuk selalu bersyukur.

Bagiku, dua puluh empat adalah angka yang tak lagi muda(h), ada banyak hal yang harus aku kembalikan kebelakang, apa-apa saja kiranya yang telah aku lakukan, dan aku hasilkan hingga aku beranjak diusia yang mendekati seperempat abad. Adakah hanya kesia-siaan hidup, atau kah sudah banyak kebermanfaatan yang aku hasilkan untuk orang-orang sekitar dengan adanya diriku. Adakah diri ini hadir sebagai seseorang yang dinanti, ataukah justru hanya menjadi seseorang yang kehadirannya tak pernah diharapkan. Adakah kehadiran ku selalu diingat atau hanya terlupakan yang hanya sebatas lewat terlintas tanpa bekas. Atau jangan-jangan selama ini aku masih hanya sebatas hidup untuk diriku sendiri. Entahlah, ini menjadi muhasabah besar bagiku.

Bagiku, dua puluh empat adalah angka yang tak lagi muda(h), ada banyak hal yang harus aku tatap kedepan. Melihat sampai mana Allah akan mengizinkan aku berdiri tegak bermanfaat dibuminya. Fase panjang yang harus dipikirkan dengan lebih matang. Ingin menjadi seperti apa aku kemudian (?) dan ingin menjadi siapa aku kelak di masa depan (?) Bukan pertanyaan yang mudah yang bisa dijawab. Namun, yang pasti aku kini sudah mulai meladeni obrolan serius dari orang tua, yang mungkin terjadi pada setiap keluarga pada umumnya, memulai obrolan dewasa, mulai mendapat tuntutan, untuk segera lulus kuliah, segeralah bekerja, dan yang terpenting adalah segeralah menikah. Entahlah, belakangan ini, ibu sudah mulai membicarakan terkait hal-hal tersebut setiap kali kami berbicara di telepon. Bagi ku itu hal yang wajar, mungkin aku yang tak wajar karena sampai saat ini masih saja tak menghiraukan, hingga akhirnya pembicaraan itu tak lagi sebatas gurauan. Baiklah.

Meski bagiku hidup tak sebatas lahir, tumbuh dewasa, menyelesaikan studi, bekerja, lantas menikah, namun tak bisa di nafikan, begitulah fase yang ada. Karena bagi ayah dan ibu ku, tak ada yang lain selain aku tumpuan mereka, setiap fase yang aku jalani adalah kebahagiaan tersendiri untuk mereka. Meski aku bukanlah anak yang membanggakan orang tua nya dengan beragam piagam kejuaran, tapi kelak akan ada makna bahagia dan rasa bangga yang akan aku persembahkan untuk mereka, meski (mungkin) tak sebanding untuk membalas rasa bangga ku karena telah memiliki ayah dan ibu seperti mereka. :)

Komentar

  1. Eh, udah tua ya. Beda tiga hari doang! Eh, setaun ding! Semoga sisa usianya barokah dan bermanfaat ya, Eka. Buruan nikaah! Maksudnya setelah aku nikah. ^^

    Met milad walo telat! :D

    http://kekasihbidadari.blogspot.com/2014/06/seperempat-abad_30.html

    BalasHapus
  2. telaaatt juga baru baless, hehe... iyaaa kita cuma beda beberapa hari, satu tahun! hehe...
    Kamu juga segera nikah yaa mbaaa, biar nanti gak aku duluin :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

REBORN..

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!

ANDINI (episode 1)