Andai aku anak Mesir...

Foto diambil dari https://www.facebook.com/photo.php?fbid=575196402541820&set=a.575191482542312.1073742080.185332328194898&type=1&theater

 
Andai aku anak Mesir..
Aku berpikir bagaimana jika aku memposisikan diri sebagai anak Mesir. Setiap hari mendengar desingan peluru, melihat ratusan pendemo berada di jalanan berhari-hari melalui sebuah siaran TV lokal atau hanya sebatas siaran radio atau pun obrolan masyarakat sekitar, atau bahkan didepan mata kepala ku sendiri. Yang menjadikan mayat-mayat sebagai pemandangan yang lumrah di sepanjang jalan Rabiah al Adawiyah dan Nahda Square.

Andai aku anak Mesir..
Entah berapa banyak tangisan yang akan aku dengar setiap harinya, yang aku akan lihat dari teman-teman ku yang tiba-tiba menjadi seorang yatim dan para ibu yang menjadi seorang janda karena ayah dan suami mereka termasuk dari segerombolan pendemo yang terkena peluru yang ditembakkan secara sengaja oleh pihak yang mengaku sebagai pemimpin negeri mereka. Atau mungkin aku pun bernasib sama dengan mereka, turut menjadi yatim bahkan piatu karena kedua orangtua ku ikut termasuk menjadi orang-orang yang ingin memperjuangkan negerinya yang di rampas begitu saja bahkan oleh militernya sendiri. Atau bahkan aku pun sudah menjadi bagian dari mereka yang berakhir karena hempasan peluru. Menjadi bagian dari sekian ratus bahkan ribuan orang yang terluka dan juga tewas terhempas.
Setau ku, militer adalah orang-orang gagah berseragam yang bertugas menjaga keamanan dan ketentraman negaranya, menjadi garda terdepan dalam menciptakan perdamaian untuk bangsa dan negaranya. Namun, apa yang aku lihat hari ini? aku melihat mereka yang berseragam gagah itu, yang mengaku sebagai militer berubah menjadi musuh di negeri sendiri, mereka mengarahkan senjata bahkan ke rakyat mereka sendiri. Sejatinya kepada siapa mereka berpihak?

Andai aku anak Mesir..
Mungkin, saat ini aku pun menjadi bagian dari sekian juta penduduk yang khawatir dengan kerusuhan pada negeriku, di saat teman-teman ku dibelahan negara lain merasakan betapa nikmatnya berpuasa, berlomba-lomba bermuraja'ah, berkhatam Al-Qur'an berkali-kali, berburu makanan berbuka di masjid-masjid ternama, ber-tarawih dengan khusyuk bersama imam-imam pilihan, ah, tetapi aku? bahkan shalat jama'ah dimasjid pun harus di ikhlaskan dengan berakhir sebagai syuhada, karena harus siap menerima tembakan peluru, karena mungkin menurut mereka, saat-saat shalat itu lah kami lengah, dan dapat menyerang kami dengan leluasa. Sebegitu berbahayanyakah kami, sehingga semua harus di selesaikan dengan senjata? Padahal kami sudah mendeklarasikan diri sebagai aksi damai.

Andai aku anak Mesir..
Namun aku bukanlah anak Mesir, aku adalah seorang anak Indonesia. Aku memiliki pemimpin yang juga mantan militer, yang entah sampai saat ini mengapa tetap diam, padahal katanya baru-baru ini beliau dipuji karena mendapat penghargaan sebagai "2013 World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation (ACF) di New York, AS", yang katanya penghargaan itu diberikan karena beliau mampu menciptakan kedamaian antar umat beragama dan berhasil menciptakan demokrasi yang baik di Indonesia. Ah, semoga aku tidak sedang berkhusnudzon dengan pemimpin negara ku. Mungkin ada hal yang sedang beliau usahakan, namun kami tidak tahu.

Meski kini mungkin banyak dari mereka yang masih mempertanyakan, kenapa kita harus peduli dengan Palestina, Mesir, Suriah, Rohingya dan negara Islam lainnya, kenapa kita harus berpayah-payah memperjuangkan mereka padahal belum tentu kita bisa berdampak apa-apa. Tidak kawan, saya katakan sekali lagi tidak. Tidak! Tidak akan pernah ada yang sia-sia dari setiap upaya kita, jika ada upaya yang dilakukan secara kolektif dan terorganisir.
Aku hanya berpikir bila suatu saat nanti -mungkin saja dan semoga saja tidak- kita berada di posisi seperti saudara kita yang saat ini, tidak kah kita berharap ada saudara-saudara muslim kita di belahan negara yang lain akan ikut membantu memperjuangkan kemerdekaan kita dalam bentuk apapun, meski kita tidak mengenalnya? bukan kah saat-saat seperti itu jika terjadi -sekali lagi saya harap semoga tidak- apa bila terjadi, kita akan menuntut persaudaraan kita yang tidak hanya sebatas teritorial melainkan keaqidahan?

Wallahu'alam bis showab..
Allahhummanshur Ikhwanal Mujahideen Fii Andonesiy, Fii Mishr, Fii Suriah Fii palestine, Allahhummanshur Ikhwanal Muslimina Fii Kuli Makan Wafi Kulli Zaman. Amiin #SaveEgypt

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REBORN..

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!

ANDINI (episode 1)