#1 HANUM

Kita termangu disini bersama, begitu lama, tanpa kata. Sudah hampir dua jam, dan tak ada satu pun kata pemecah keheningan. Kau terus saja sibuk dengan ponsel digenggaman, dan aku hanya sebagai penyelaan. Jika aku tau akan seperti ini, mungkin lebih baik tak perlu saja ada pertemuan. Karena ternyata seperti ini hanya akan membuat aku menyukai perpisahan jarak diantara kita seperti biasanya, hingga aku merasa kita lebih dekat saat dipisahkan oleh jarak. 

Aku pikir kau menyukai pertemuan ini, sama sukanya seperti aku yang begitu bersemangat menanti hari ini. Namun, ternyata, sedari tadi tak ada kata yang memecah kebekuan diantara kita. Tak ada yang bisa aku lakukan, selain menunggu dan duduk dengan senyum, lalu berpura-pura mengatakan, bahwa aku baik-baik saja. Entah apa maknanya, pertemuan saat ini ternyata membuat hati dan pikiran mu tak seinci pun menjadi dekat, sedekat posisi duduk kita saat ini, yang hanya berjarak beberapa inci saja, jika sedikit saja aku atau kau bergeser, mungkin tidak lagi ada jarak diantara kita. 

Aku benci keadaan seperti ini, tapi kaki ku sudah begitu kaku, membuatku tak mampu melangkah dan pergi. Tubuh ku terlanjur tertahan, dan hati ku terlanjur berharap terpaku bersamanya, hingga tak ada organ lagi yang mampu menggerakkan untuk berlari dan pergi, karena ternyata diri ini menyanggupi untuk tetap disini, menunggu, meski hanya duduk membisu.
Aku tau keadaan kau kini tlah berbeda. Bahkan sangat berbeda dari terakhir kali kita berpisah. Kini, kau sudah menjadi seperti apa yang kau janjikan dulu diwaktu terakhir pertemuan kita.

"Hanum, jagalah bapak dan ibu dengan baik, janganlah menjadi anak yang menyusahkan. Aku janji akan kembali sesegera mungkin, dan aku akan kembali sebagai orang yang sukses."

Begitu kata terakhir yang kau ucapkan, sembari memegang kuat-kuat pundakku dan mengakhirinya dengan pelukan hangat yang membuatku mencium aroma khas parfum yang ada di tubuhmu. Aku pikir kata-katanya hanya bualan saja dan aku pun mengabaikan semuanya. Namun, ternyata matanya begitu kuat menatap sehingga aku pun tak mampu mengabaikan setiap kata-kata yang terlontarkan dari bibirnya sedikitpun. Hingga pada akhirnya, dia pun membuktikan kata-katanya yang ku anggap hanya sebagai bualan itu. Saat ini, ia terlihat lebih tampan dengan setelan kemeja yang dilengkapi jas, dan dipergagah oleh dasi yang menjulur dilehernya. Kini, aku tau, makna sukses yang dimaksudnya kala itu.

Entah, aku harus bangga atau sebaliknya. Namun, melihat bapak dan ibu bisa tersenyum lebih lama dari biasanya, mungkin itu cukup untuk membuat aku mengalah pada kemarahanku kepadanya. Iya, dia memang sudah sukses seperti yang dikatakan sewaktu terakhir kali ia memelukku dulu. Ia, sudah seperti apa yang ia janjikan pada ku, bapak, dan ibu sewaktu ia berpamitan dulu, tiga tahun lalu.

"Aku senang kau memperhatikan apa yang aku katakan terakhir kali itu Hanum." dan akhirnya kau pun menganggap keberadaan ku disamping mu dengan memulai berbicara tentang aku yang sedari tadi hampir kaku diterpa dinginnya angin malam, dan dilengkapi dengan kesunyian kata yang berhasil kau ciptakan diantara kita.
"Kini kau benar-benar sudah tumbuh dewasa dan terlihat sangat cantik dengan balutan pakaian muslimah mu. Kini aku ingin memenuhi janji ku padamu tempo hari. Sekarang, bersiap-siaplah. Sebentar lagi akan ada seseorang yang akan aku perkenalkan padamu. Seseorang yang pernah kau minta dulu, bahwa kau hanya akan menikah dengan laki-laki pilihan abang mu. Kau percayakan abang mu untuk menjadi perantara mu bertemu dengan laki-laki yang shaleh yang akan kau jadikan imam. Jadi, bergegaslah, kau hanya akan berkenalan, setelahnya kau lah yang akan menentukan."

Tiba-tiba hati dan kepala ini seperti terhantam batu besar dan aku lagi-lagi hanya bisa terdiam. Abang macam apa sebenarnya dia ini, tiba-tiba datang tanpa mengabarkan, lantas mengatakan ingin mempertemukan ku dengan seseorang yang katanya sudah kau pilihkan khusus untuk menjadi calon imam ku. Aku memang mempercayakan ini pada mu. Tapi bisa kah tidak seperti ini cara mu memenuhi permintaanku, dengan mengejutkanku. Kenapa tidak langsung saja kau dandani aku dan langsung kau datangi penghulu dihadapanku! Sampai beberapa detik berlalu aku masih saja terpaku dengan deru napas yang menggebu. Rasanya aku ingin menonjok dengan kepalan paling keras, orang yang berada dihadapanku ini tanpa memperdulikan bahwa ia adalah abang ku. Aku ingin ia tersadar, bahwa aku ini adiknya! bukan boneka yang bisa dia perlakukan begitu saja seenaknya. Tidak kah dia berpikir tentang dirinya yang belum juga menikah? kenapa justru sibuk menjodohkan ku dengan pilihannya.

"Sudahlah. Jika, kau terlalu lama diam, dan tak juga bergegas, jodoh mu akan segera di patok ayam! Segeralah sana. Aku tau kau pasti terkejut, tapi bapak dan ibu sudah setuju dengan rencana ku, jadi ini akan menjadi kejutan yang paling membahagiakan untuk mu, dan aku yakin, suatu saat kau akan sangat bersyukur memiliki abang seperti ku." Senyum nya yang datar diakhir pembicaraan selalu menjadi kan nya khas dan begitu aku rindukan meskipun itu sangat menjengkelkan.

***
Pertemuan itu berlalu begitu singkat. Aku hanya keluar menyuguhkan teh hangat dan camilan. Tidak ada yang spesial, aku hanya duduk sebentar, kemudian kembali lagi kedalam. Dia hanya berkunjung kerumah, dan benar-benar hanya bersilaturahim.
Ternyata dia adalah adik tingkat, sekaligus partner usaha rumah makan abang selama di Malaysia. Mereka membuka usaha rumah makan masakan khas Indonesia di Selangor, Malaysia, sembari melanjutkan studi S2 nya di IIUM, bersama beberapa teman-temannya yang lain. 
Sampai saat ini, aku tidak menemukan alasan yang kuat untuk aku mengatakan tidak, abang memang tidak memaksa, dia hanya memperkenalkan teman terbaiknya, semua terserah mu saja, begitu katanya. Namun, aku yakin sebelum abang mempersilahkannya datang kerumah, ia pasti sudah melalui tahap seleksi yang panjang dan ketat, tanpa sepengetahuan ku dan dirinya, jadi memang benar-benar tidak ada lagi alasan untuk aku ragu atau pun menolaknya.
 
Terakhir, aku baru saja mengetahui ternyata, abang pulang untuk melamar seorang gadis yang sudah mantap menjadi pilihan dalam istikharahnya, dan 2 minggu lagi mereka akan menikah, selisih satu bulan dengan ku. Ah, lagi-lagi ia tidak mengatakan apa-apa pada ku. Sungguh, untuk yang kesekian kalinya, aku ingin sekali menonjok nya dengan kepalan paling keras. Namun, lagi-lagi keinginanku ini selalu terkalahkan oleh rasa cinta yang begitu besar dan mendalam kepadanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

REBORN..

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!

ANDINI (episode 1)