KAMMI itu....



KAMMI itu, tempat pertama kali saya mengenal Khalida, Evi, Yani, Vety, Ismi, Anis, dan pejuang-pejuang kampus lainnya, di Masjid Agung Karanganyar, Dauroh Marhalah 1. Saya mengetahui KAMMI karena dulu semasa SMA ada organisasi eksternal di Jakarta juga yang bernama KAPMI (Kesatuan Aksi Pelajar Mahasiswa). Simpel sebenarnya, diawal saya bukan orang yang begitu bersemangat untuk ikut dan masuk di KAMMI, mungkin juga teman-teman yang lain pun merasakan demikian. Ibaratnya seperti terjerumus dalam kebaikan.


Awal pertama kali di KAMMI, saya tidak pernah (ingin) mendaftar menjadi pengurus disana. Saat liburan semester pertama, saya ingat betul, ketika sedang asik-asik liburan di Jakarta, didaftarkan menjadi pengurus oleh mba Ulfah Hidayati, S.Ikom (Komunikasi 2006), lalu tidak lama dari itu mendapat sms, “Selamat anti tergabung dalam pengurus KAMMI di bidang Bidang Kebijakan Publik (KP)”. Ketika itu ketua komisariatnya adalah akh Barjos (FE 2006), sewaktu komsat masih berlokasi di jalan Surya. Tanpa, mengerti bidang itu mengenai apa, namun dari sini lah kisah romantisme perjuangan itu dimulai.

Kesan pertama diawali ketika datang ketika mengikuti syuro KP di komsat, dengan tempat yang sangat terpencil, yang ternyata itu adalah ruangan bagian akhwat, saya ingat betul saat itu yang terpikirkan dibenak saya adalah, tempat ini terlalu kecil kalau untuk syuro barengan ikhwan dengan akhwat. Lalu, tiba-tiba beberapa menit kemudian terdengar suara ikhwan dari balik sebuah tirai besar yang bagi saya itu sangat amat besar karena menutup dari langit-langit hingga ke lantai, penuh seperti sekat yang memisahkan satu ruangan menjadi dua, dan ternyata itulah hijab syuro antara ikhwan dan akhwat. Jujur saya sangat kaget diawal, meski saya tidak asing jika syuro dengan menggunakan hijab, namun saya benar-benar asing, jika harus melakukan syuro dan interaksi atau bahkan bekerjasama dengan orang lain, tapi saya tidak tau seperti apa bentuk dan rupanya, yang saya ketahui hanyalah suaranya dari balik sebuah tirai besar yang menyekat satu ruangan. Ya, begitulah kesan pertama saya ketika bergabung di kepengurusan KAMMI pertama kali. KAMMI itu memperkenalkan saya dengan budaya hijab yang “besar” dalam aktifitas-aktifitas syuro di UNS.


“Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”


Sebuah ungkapan bahasa Jawa yang artinya “cinta ada karena biasa”. Sampai saat ini, entah alasan apa yang membuat saya masih bertahan di KAMMI hingga akhir semester 7, menuju tingkat akhir ini. Saya masih begitu rajin dan semangatnya mengikuti acara-acara KAMMI hingga saat ini. Padahal, seingat saya, ketika tahun pertama dulu mengikuti setiap kegiatan KAMMI itu selalu saja mabit, dulu seringnya mabit di TK Al-Bina, padahal saya tidak menyukai mabit.

Mungkin jika diraba-raba, saya bisa saja dengan polosnya menjawab alasan kenapa saya tetap bertahan dan selalu rajin datang di acara-acara KAMMI. KAMMI itu bisa mempertemukan saya dengan teman-teman yang bisa dikatakan memiliki visi, misi, dan pola pikir yang sama dibandingkan di fakultas, maklum FISIP terlalu beragam jenis hingga sulit menemukan yang sejenis (lho?). hehe..


Lantas apa hubungannya ungkapan Jawa diatas, dengan seringnya saya ikut diacara KAMMI? Jelas, itu ada dan erat sekali hubungannya. Saya mengartikan bahwa rasa cinta yang saya miliki ini tidak tumbuh begitu saja. Rasa cinta itu perlahan timbul dan mengakar didalam diri seiring dengan seringnya terlibat dalam setiap acara-acara yang diadakan oleh KAMMI. Sepele memang, bukanlah alasan yang ideologis, tetapi itulah cinta, terkadang hanya butuh alasan yang sepele, meski tidak terterima oleh logika sekalipun.

KAMMI itu memperkenalkan saya akan arti ukhuwah, militansi, dan ideologi. Meski saya meyakini, organisasi itu layaknya manusia, tidak pernah ada yang sempurna, karena memang yang mengisi adalah manusia-manusia itu sendiri yang tidak pernah memiliki kesempurnaan. Namun, beragamnya ketidaksempurnaan yang dimiliki oleh manusia-manusia itulah yang seharusnya bisa menyempurnakan. Beragam konflik yang sering terjadi di tubuh KAMMI menjadi bumbu penyedap paling harum yang justru membuat kami saling mengenal dan saling memahami karakter satu sama lain. Terkadang kedekatan seseorang itu terjadi karena adanya perbedaan diantara mereka lho, justru bukan melulu kesamaan yang mendekatkan mereka.


Sampai saat ini jika harus berkata jujur, tidak ada alasan ideologis apapun yang membuat saya tetap bertahan disini. Namun, alasan-alasan kultural itulah yang membuat saya tetap bertahan dan ada disini. KAMMI itu hanyalah sebuah nama dan benda mati, namun dia akan hidup dan memiliki nama karena orang-orang yang hidup dan membesarkan namanya. Tidak harus melulu menuntut KAMMI sempurna, karena jika banyak terjadi kektidaksempurnaan didalamnya, itu bukanlah karena visi ataupun misi KAMMI yang buruk, namun karena ketidaksempurnaan aku, kamu, dan kita yang belum mampu membuat KAMMI sempurna.

Dari keseluruhan moment yang terjadi di KAMMI, moment yang paling tidak pernah ingin saya lewati adalah, ketika akhir acara DM1, pelantikan AB1. Saya selalu merinding ketika dibacakan Kredo Gerakan KAMMI, dan mungkin jika ditanyakan (lagi) apa yang menjadi alasan ideologis kenapa saya mencintai KAMMI, mungkin inilah jawabannya. Saya (selalu) jatuh cinta dengan KAMMI ketika Kredo Gerakan KAMMI itu dibacakan dengan lantang. Dan sialnya, setelah saya mengikuti DM2 di Semarang, ternyata saya semakin cinta.

(untuk penulisan persembahan akhir kepengurusan KAMMI- Inklusif Membumi 2012, yang diadakan oleh kesekjenan) 

Surakarta, 10 Januari 2013
Eka Sulistiana (FISIP, Ilmu Komunikasi 2009)

Komentar

  1. Itulah benih kebaikan yg direalisasikan dlm perjuangan menegakkan haq,,, terus berjuang dn jgn lupa dg hal yg paling sulit dihidupkan bg semua aktivis yakni ' Istiqomah ',,,#DaurahtarqiyyahCIKONENG

    BalasHapus
  2. Menegakkan doktrin dan persepsi masing-masing

    BalasHapus
  3. Jundie : jadi doktrin dan persepsi anda seperti apa? :p

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANDINI (episode 2)

ANDINI (episode 1)

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!