Kucing Kecil, Aku Minta Maaf...

Ini seharusnya saya mengerjakan tugas jurnalistik yang bertema "People Trails, Paper Trails, Money Trails, in depth and investigating reporting", dan  jenis apa laah ituu...  yang besok pagi harus dikumpul. Tapi karena wangsit nya belum datang untuk bisa mengerjakan, jadilah saya berselingkuh terlebih dulu untuk menulis apa yang beberapa waktu lalu saya alami...

Ceritanya siang itu selepas acara makrab yang diadakan oleh temen-temen Komunikasi UNS 2009, perjalanan saya tidak lantas berakhir pulang ke kos untuk langsung bertemu kasur empuk di kamar, tetapi perjalanan masih berlanjut untuk memenuhi undangan dari temen-temen BEM FH UNS untuk menjadi co-trainer dalam acara LKMM (Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa) BEM FH UNS. Bertempat di daerah yang bernama Segoro Gunung, tempat yang tinggi dengan pemandangan yang indah tapi ber-suhu udara rendah, untuk mencapai lokasi, saya sudah janjian dengan panitia untuk dijemput di jalan dekat pintu gerbang ke arah Sukuh, Candi Cetho. Disana saya dijemput oleh panitia yang bernama Arko dan Sophi. Sesampainya disana, saya langsung dengan otomatis mengarah ke motor dek Sophi, bukan untuk langsung naik dan membonceng, tapi menawari dek Sophi untuk saya boncengi, karena saya tau diri dan tidak tega membiarkan adik kecil itu harus memboncengi saya yang ukuran tubuhnya agak lebih besar darinya, (nyadar lah yaa..) naik ke daerah yang menanjak dan berliku itu. Awalnya mereka pekewuh, karena seharusnya saya yang dijemput itu yaa diboncengi, bukan malah memboncengi, tapi, yasudahlah yaa saya pikir itu karena memang saya nya yang tau diri dan sudah terbiasa juga naik motor di jalan terjal, yang tinggi menjulang, dan berliku (duh, lebai!).
Akhirnya dimulailah perjalanan kami menuju Segoro Gunung dimana tempat acara dilaksanakan, dengan posisi Arko jalan lebih dulu dan kami mengikuti dari belakang. Sepanjang jalan saya pun ngobrol banyak dengan dek Sophi, hingga keluar lah pertanyaan, "dek emangnya kamu berani boncengin saya ditempat yang nanjak kaya gini?" dek Sophi pun menjawab dengan cengengesan, "hehe.. gak mba." Nah, lho.. benerkan? untung tadi saya minta motornya! (ngebatin).
Perjalanan terus melaju dengan kecepatan 60 km/jam dengan aman dan nyaman, namun, tiba-tiba saja ada seekor kucing kecil belang-belang hitam lewat di jalan ketika motor saya sedang melaju kencang, saya pun panik dengan keadaan motor yang tiba-tiba oleng karena dalam keadaan kencang dan harus menghindari kucing tersebut, hingga pada akhirnya pun, jegeeerr! aaaaaa..... ngelindes kucing!! Spontan menarik rem sekuat tenaga, tapi sudah telat karena kucing sudah terlindas, dan motor baru berhenti beberapa meter berjarak dari kucing kecil tersebut. Lalu saya menengok kebelakang dan panik! Arko yang melaju lebih dulu,  langsung saya klakson dan dek Sophi pun memanggil-manggil, namun ternyata itu tidak membuat dia berhenti dan terus melaju, hingga akhirnya setelah jarak yang cukup jauh, ia pun sadar bahwa kami tidak lagi ada dibelakangnya, dan ia pun kembali ketempat kami berhenti. Selama menunggu Arko putar balik ke arah kami, hanya kepanikan yang ada antara saya dan dek Sophi.
"Aduh, dek gimana nih kucing nya mati gak ya? nanti kalo mati gimana?" (sambil nengok ke belakang ke arah kucing)
"Aku juga gak tau mba, harus dikubur katanya kalo kita nabrak kucing"
(panik!) "dek, kok kucingnya diem aja ya? setiap ada yang lewat pasti liat kearah kucingnya? jangan-jangan mati lagi, gimana dong? kita kuburnya dimana?"
"Yaudah mba, kita tunggu Arko balik dulu aja"

Oke.. sedikit menenangkan diri, dan mengumpulkan keberanian untuk balik melihat keadaan sang kucing kecil. Tapi, bayangan yang terlintas dikepala saya saat itu adalah..
1. Gimana kalo kucing itu mati dan isi yang ada didalam perutnya keluar semua? (ngeriii.... giman bersihin, ngangkat dan nguburnya?!)
2. Haduh, kucing itu kan hewan kesayangannya Rasulullah, dan sekarang gue malah nabrak, dan kemungkinan ampe mati, huaaa nanti kalo ketemu Rasulullah di akhirat, beliau marah dan gak ngakuin gue sebagai umatnya gimana??? (tambah panik!!)
3. Terus tuh kucing mau dikubur dimana? apa nanti cari plastik dibawa ketempat acara terus dimakam disana aja? (Yaaa Rabb, panik tingkat dewa!)
4. Harapan terakhir! cepat baliklah Arko, semoga kamu punya solusi. Intinya nunggu Arko aja, kan dia cowok pasti lebih berani!

Akhirnya Arko datang....
"Mba, kenapa kok berhenti?"
"Kita nabrak kucing ko, dan kucing nya gak gerak-gerak kayaknya dari tadi, tuh disana.." (nunjuk kearah kucing dengan muka lemes)
"Yaudah yukk, kita lihat kesana mba"

Oke, Arko jalan duluan dan saya pun mengikuti dari belakang, tapi tiba-tiba dek Sophi bilang. "Mba, aku gak ikut yaa, gak berani liat, aku tunggu sini aja". Huaaa, kamu kira aku berani dek? -___- tapi, yaa gengsi dong, dengan kesok beraniannya, saya pun mengatakan, "Ya udah dek, kamu tunggu sini dulu aja ya, aku aja yang kesana"

"Gimana ko? mati gak kucing nya?"
"Gak mba, kayaknya masih hidup deh, itu masih melek dan masih gerak-gerak"
diliat-liat, didekati, ternyata benar, masih hidup! Huaaaa betapa senangnya saat itu, alhamdulillah ya Allah, dalam hati langsung teriak-teriak, "ya Rasulullah maafkan aku yaa, semoga Engkau tidak murka, aku benar-benar tidak sengaja dan tidak bermaksud menyakiti hewan kesayanganmu ini."

"Yaudah ko, dipindahin aja kucingnya kepinggir, kayaknya dia cuma shock aja deh, biar nanti gak ketabrak lagi, masih bisa jalan gak ya?" hemmm... beberapa saat kemudian. "Kok cuma diliatin aja ko, ayooo bantu dipinggirin kucingnya, angkat lehernya itu lho.."
"hehe... saya gak berani mba sama kucing, takut di gigit." takut-takut sambil cengengesan.
"HAH? Apaaaa???"

(dalam hati gerundel) Masa iya Arko yang kribo, hehe maaf yaa ko, sama kucing aja takut digigit, padahal dia ama kucing kan gedean dia, dan kalo main gigit-gigitan juga menangan dia *huff, tau gitu tadi ngapain nungguin dia putar balik, ternyata dia juga gak berani ama kucing! Alhasil gue juga lah yang mengelus-elus dan memindahkan kucing kecil itu kepinggir. Ternyata setelah diangkat kepinggir, kucing kecil itu pun bisa berjalan, meskipun agak pincang, dan dia pun kembali menyebrang ke jalan. (haduuh, atiati yaa kucing, kamu kok nakal sih, sukanya main-main dijalan raya). Untunglah, kucing kecil itu tidak apa-apa dan masih bisa berjalan. Dan kejadian itu membuat saya berpikir sesuatu, oohh, mungkin ini lah yang sering dibilang orang, kalo kucing itu punya nyawa banyak, padahal udah ditabrak dan kelindes motor, dengan tidak sengaja tentunya, tapi dia pun masih hidup dan bisa berjalan seperti biasanya.

Tiba-tiba ada seorang nenek yang datang dan menceritakan sesuatu tentang kucing kecil tersebut.
"Mba, dia dari kemarin emang bolak-balik disitu terus, main dijalanan, karena kemarin ada temennya yang baru aja mati ketabrak juga, dan dikuburin di kebon belakang, terus abis itu dia selalu bolak-balik dijalan ini terus, dan kemarin malah kayak nangis gitu." (pastinya dengan logat bahasa jawa yang sudah saya artikan ke bahasa Indonesia, hehe)

"Subhanallah, bahkan kucing pun punya kepeduliaan yang sangat besar terhadap temannya, dimana dia merasa bahwa ditinggal oleh seorang teman adalah hal yang sangat berarti, dan rasa kehilangannya itu diungkapkan dengan seringnya mendatangi tempat dimana temannya itu mati karena tertabrak kendaraan. Sudah barang tentulah kita yang sebagai manusia yang memang makhluk sosial, sudah seharusnya kita mampu untuk menjalin ukhuwah islamiyah kepada saudara-saudara kita sesama muslim dan tidak lagi saling menyakiti satu dengan yang lainnya hanya karena sebuah kepentingan maupun ego pribadi."

Tiba-tiba dek Sophi datang menghampiri kita di TKP
"Gimana mba, gak mati kan? emang mba katanya kalo nabrak kucing, kucingnya itu minta di elus-elus sama yang nabrak, terus dia bangun lagi deh.."
(dalam hati) hadeeehh, teori dari mana itu dek? -_-

dan Arko pun bilang "Hehe, mba kucingnya bagus tuh kepalanya gak kayak kucing biasanya,cakep"
(dalam hati)he-he.. iya, bagus! tapi tetep aja kamu gak berani. -_-

dan kita pun melanjutkan perjalanan yang menanjak dan berliku itu dengan perasaan lebih tenang. ^_^

Kucing Kecil, Maafkan aku yaaaa........


*Buat Arko dan Sophi, Thanks For The Great Our Journey"

Komentar

  1. Kasihan kucingnya. Tapi pengen ngakak juga habis baca. Hihi!

    BalasHapus
  2. haha, iyaa mba, tapi itu kucing ajaib kok, abis dielus-elus dia langsung jalan lagi kaya biasa, padahal yang nabrak mah udah panik kayak apaan tau.. :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANDINI (episode 2)

ANDINI (episode 1)

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!