Corporate Social Responsibility

Corporate Social Responsibilty atau tanggung jawab sosial yang saat ini mulai banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Hal ini dipicu oleh kebijakan pemerintah yang mewajibkan semua perusahaan yang bergerak di bidang atau berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam untuk melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) melalui UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Menurut konsepnya, CSR oleh World Bank (Sripambudi, 2005) diartikan sebagai Corporate Social Responsibility/ CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan di mana CSR adalah komitmen dunia usaha untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan bekerja sama dengan tenaga kerja dan organisasi representasinya, dengan masyarakat lokal dan dengan masyarakat dalam lingkup yang lebih luas, untuk memperbaiki kualitas hidup dengan cara yang menguntungkan kedua belah pihak baik untuk dunia usaha maupun untuk pembangunan masyarakat sekitar perusahaan dan masyarakat luas.

Secara operasional, tanggung jawab sosial perusahaan didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan para karyawan serta perwakilan, keluarga, komunitas setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun untuk pembengunan sebuah negara (Ambadar, 2008).

Agak berbeda dengan rumusan di atas, dalam ISO 26000 (Guidance on Social Responsibility) yang dirilis pada 1 November 2010, disebutkan bahwa tanggung jawab sosial adalah :

Responsibility of an organization for the impacts of its decisions and activities on society and the environment, through transparent nd ethical bahaviour that contributes to sustainable development,  health and welfare of society; takes into account the expectations of stakeholders; is in compliance with applicable law and consistent with internastional norms of behaviour; and is integrated troughout the organization and practice in its relationships.”

CSR dikembangkan dari pemahaman tentang prinsip-prinsip Triple Bottom Line seperti yang dikemukakan oleh Jhon Elkington (1970) yaitu: 3P (proft, people, and planet) sebagai syarat keberlanjutan usaha korporasi (corporate sustainability). Dalam arti, selain mengejar keuntungan juga harus memerhatikan kesejahteraan masyarakat (karyawan dan masyarakat di sekitarnya) serta pelestarian dunia seisinya. Ketiga prinsip tersebut, kemudian oleh Prince of Wales International Business Forum dimaknai bahwa CSR bukanlah sekedar bantuan sosial yang bersifat karitatif atau filantropi (kepedulian perusahaan (corporate) terhadap korban musibah bencana-alam dll).

Tetapi, kegiatan CSR dirumuskan sebagai kegiatan dengan lima pilar yang mencakup :
  1. Pengembangan kapasitas SDM, dilingkungan internal perusahaan maupun di lingkungan masyarakat sekitarnya.
  2. Penguatan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
  3. Pemeliharaan hubungan relasional antara korporasi dan lingkungan sosialnya yang jika tidak dikelola dengan baik, sering mengundang kerentanan konflik.
  4. Perbaikan tata-kelola perusahaan yang baik.
  5. Pelestarian lingkungan, baik lingkungan fisik (sumber daya alam) serta lingkungan sosial dan budaya/kearifan lokal.


Rumusan tentang bidang kegiatan CSR di atas dalam ISO 26000 diperbarui menjadi 7 bidang, yaitu:
  1.  Tata-Kelola Dan Perusahaan
  2.  Praktik Ketenagakerjaan
  3.  Praktik Beroprasi Yang Adil
  4.  Hak Asasi Manusia
  5.  Lingkungan
  6.  Hak Dan Perlindungan Konsumen
  7. Keterlibatan dan Partisipasi Masyarakat

    Dalam praktik, CSR/Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dilakukan dalam bentuk-bentuk:
1.      Kepedulian (philantrophy) terhadap korban bencana-alam, dll
2.      Kedermawaan dalam bentuk-bentuk kegiatan kariattif, seperti layanan kesehatan, beasiswa, dll
3.      Pengembangan Masyarakat (community development).



Meski ternyata, terkadang ada beberapa orang yang berpandangan lain mengenai CSR, yang melihat CSR tidak hanya di bentuk sebagai bidang yang concern pada bidang sosial saja, melainkan melihat kegiatan CSR sebagai bentuk yang dibuat untuk sarana penebusan dosa sebuah perusahaan terhadap alam untuk masyarakat sekitar. Kerusakan yang terjadi akibat eksploitasi alam besar-besaran untuk memenuhi komoditi pokok sebuah perusahaan yang barang-barang produksinya mengambil langsung dari Sumber Daya Alam yang tersedia, seperti pertambangan batu bara, minyak, gas, dan hasil alam lainnya. Meski saat ini juga sudah banyak perusahaan yang non eksploitasi alam juga memiliki CSR, contohnya seperti BANK BRI.
Perusahaan memiliki tanggung jawab moral sebagai bentuk balas budi terhadap alam dengan membayarnya kepada masyarakat sekitar yang tinggal diwilayah eksploitasi. Hal ini sebenarnya juga dimanfaatkan oleh perusahaan untuk menaklukan masyarakat agar wilayah tempat tinggal yang di eksploitasi untuk kepentingan perusahaan, dengan sebagai gantinya adalah adanya jaminan sosial dari berbagai sektor, agar masyarakat mendapat ganti atas kerugian dari sekitar wilayah tempat tinggalnya. Oleh karena itu, bekerja dibidang CSR merupakan pekerjaan yang akan banyak bersinggungan dengan masyarakat, memahami banyak karakter dari setiap wilayah agar mampu menghadapi sehingga dapat memberikan program-program CSR yang tepat terhadap masyarakat di wilayah setempat.


*Sumber
- Buku "CSR dalam Praktik di Indonesia"
- Majalah Bisnis dan CSR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REBORN..

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!

ANDINI (episode 1)