-Memancing Ikan-

Pada suatu hari, ada seorang guru bernama Syaikh Idris, mengajak keempat murid kesayangannya untuk memancing di sungai. Kegiatan memancing selalu mereka lakukan pada hari - hari tertentu. Adapun maksud sang syaikh dengan kegiatan memancing itu adalah untuk melatih kesabaran para muridnya. Pasalnya, kesabaran merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh para dai agar mereka selalu berpikir jernih dalam berdakwah. Karena dakwah yang dilakukan dengan emosi akan menyebabkan kata-kata yang disampaikannya pun sulit dimengerti.
" Hai, Bujang. Kudengar kau sering berselisih dengan Imam. Mengapa kau lakukan itu?" Tanya Syaikh Idris kepada salah satu muridnya.
" Ya Tuan Guru. Jika semua orang baik padaku, bagaimana aku mengetahui kesalahanku?" tanya Bujang.
" Teman itu lebih baik dari pada musuh, Bujang. Musuh memang akan selalu mencari-cari kesalahanmu atau bahkan mengubah kebenaran menjadi kesalahan, agar ia dapat menyakitimu. Tetapi tidak demikian hal nya dengan teman. Seorang teman yang baik akan selalu mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah," jelas Syaikh Idris
" Jadi kita boleh memberitahukan kesalahan teman kita Guru?" Tanya Bahtiar
"Wajib. Tetapi, ikutilah adab penyampaiannya agar tidak ada kesalahpahaman. Kalian jangan seperti anak kecil yang melihat langit,"
" Apa maksudnya, Guru?" tanya Bahtiar lagi.
" Maksudnya, kalian boleh mengatakan sesuatu itu salah jika kalian tau apa yang benar. Jika kalian hanya dapat mengatakan bahwa sesuatu itu salah tanpa mengetahui apa yang benar, maka kalian seperti anak kecil yang mengatakan bahwa langit berwarna biru tanpa mengetahui sebab mengapa ia berwarna seperti itu," jelas Syaikh Idris
Setelah percakapan itu, mereka kembali terdiam. Perhatian mereka kembali terfokus pada kailnya masing-masing. Namun, Bujang yang sejak tadi belum juga mendapatkan ikan seekor pun, tampak kesal. Karena kesalnya, ia menggunakan pisang sebaggai umpannya.
" Guru, belakangan ini aku risih sekali melihat Bujang bergaul dengan pemuda-pemuda pasar yang tidak shalat," ujar Bahtiar tiba-tiba. 
 "Apa benar, Bujang?" tanya Syaikh Idris sambil mengernyitkan keningnya. Sementara itu, Bahtiar tampak senang karena komentarnya diperhatikan sang guru.
 "Benar, Tuan Guru,"
 " Mengapa kau lakukan?"
   " Maaf Tuan Guru. Jika saya hanya bergaul dengan saudara-saudara seperguruan saya saja, apa gunanya saya bagi masyarakat? Saya akan seperti pohon yang membusukkan buahnya karena tidak dipetik oleh mereka yang membutuhkan," jawab Bujang sambil membenarkan letak kopiahnya.
" Maaf, Guru. Bujang mengingkari apa yang telah kita lakukan selama ini. Bukankah kita sering memberi ceramah kepada masyarakat luas? Itulah salah satu manfaat kita bagi masyarakat," ujar Hasan, putra Kepala Kampung yang juga menjadi murid Syaikh Idris.
" Kau benar, Hasan. Itu memang salah satu manfaat kita. Tetapi kau pun tahu bahwa tidak semua tanaman yang disiram akan tumbuh subur. Karen subur atau tidak nya tanaman juga dipengaruhi oleh kualitas tanahnya." ujar Bujang lalu bersandar pada pohon di belakangnya. 
"Hai, Bujang. Semua orang akan mendapat manfaat dari ceramahku. Kau harus tahu itu," ujar Hasan kesal.
Tiba-tiba saja Bujang menarik pancingannya. Ia tampak kesal sekali dengan karena tidak ada seekor ikan pun yang memakan umpannya. Maka, saudara seperguruannya yang lain serta merta tertawa tergelak-gelak ketika melihat umpan yang dipakai Bujang adalah pisang.
" Hai Bujang, jika umpanmu sebuah pisang, sampai pagi pun, kau tidak akan memperoleh ikan," ujar Bahtiar lalu kembali tertawa.  
" Bukan salahku. Ikannya saja yang kampungan. Pisang selezat ini tidak mau dimakan," gerutu Bujang.
" Kalau kau memancing kera, mungkin kau yang pertama mendapatkannya. Tetapi, kau memancing ikan. Tidak semua binatang menyukai pisang," nasihat Hasan.
" Kau benar, Hasan. Memang tidak semua binatang menyukai pisang, tapi apakah semua orang menyukai ceramah?" tanya Bujang sambil melemparkan talinya kembali



# Cerita ini diambil dari sebuah buku yang sangat menggelitik namun syarat makna. Semoga bisa mengambil hikmah dan mampu MENGINSPIRASI... 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANDINI (episode 2)

ANDINI (episode 1)

Jangan Pernah Lakukan, dan Kau Pasti akan Menang!